Spiritual Creativity

haaayyyy, tidak terasa sudah mau UAS aja yaaaa. Pak ApiQ sudah menugaskan kamiuntuk menulis tentang Spiritual Creativity. Sebenarnya saya juga rada tidak mengerti tentang apa itu yang dimaksud dengan spiritual creativity. Lalu saya mulai membaca blog Pak ApiQ. Disana ada beberapa tulisan yang dapat kami jadikan rujukan untuk menyelesaikan tugas untuk UAS kali ini. Nah, mari kita mulai.

Pada blog Pak ApiQ yang berjudul “Proses Kretaif Inovatif Dangan Kecerdasan Spiritual” disebutkan bahwa garis besar prose kreatif dan inovatif adalah sebagai berikut:

1. Pribadi yang memiliki kekuatan. Tahap awal terjadinya proses kreatif dan inovatif mensyaratkan adanya orang, pribadi, yang yakin bahwa dirinya memiliki kekuatan.

2. Menjadi besar. Kesadaran bahwa seseorang dapat tumbuh menjadi besar melampaui batasan-batasan yang mengurung.

3. Generator ide. Ide adalah bahan mentah untuk kreativitas dan inovasi. Ide adalah gratis dan mudah bila kita tahu cara menelurkannya.

4. Realisasi nyata. Dalam berbagai bentuk yang beragam ide harus menjadi realitas yang memberi dampak nyata kepada semesta.

5. Karya yang cantik. Untuk mencapai misinya, kreativitas dan inovasi harus menampilkan dirinya sebagai sosok yang cantik. Tidak cukup hanya memenuhi fungsi-fungsi pokok, kreativitas dan inovasi perlu mengekspresikan keindahan dan cita rasa seni budaya.

6. Toleransi. Kreativitas dan inovasi memunculkan banyak perbedaan. Dari sini, rasa hormat dan toleransi ke berbagai pihak menjadi sangat penting.

7. Menuju nomor satu. Secara alamiah, kreativitas dan inovasi akan mendorong dirinya untuk menjadi nomor satu di bidangnya.

8. Kontribusi. Dari awal sampai akhir, tujuan kreativitas dan inovasi adalah untuk berkontribusi kepada semesta.

9. Menjadi andalan. Secara bertahap masyarakat akan mengandalkan diri kepada kreativitas dan inovasi.

10. Fasilitator. Pada gilirannya, sebuah kreativitas dan inovasi akan menjadi fasilitator dan pemicu lahirnya kreativitas dan inovasi baru.

11. Disiplin keilmuan. Awalnya, kreativitas dan inovasi lahir dari intuisi-intuisi sesaat. Pada akhirnya, setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun, kreativitas dan inovasi harus dapat dipertanggunjawabkan secara keilmuan

Kurang lebih saya setuju dengan pendapat Pak ApiQ disini. Dimulai dengan poin pertama yang menyatakan bahwa terjadinya proses kreatif dan inovatif dimulai dari pribadi yang memiliki kekuatan. Yap, menurut saya ide kreatif dapat kita munculkan dari dalam diri kita sendiri, asalkan kita memiliki kemauan dan kekuatan untuk memunculkan ide tersebut ke permukaan (memaparkan ide tersebut).

Setelah kita dapat memunculkan ide tersebut, kreatifitas itu akan menjadi besar dengan sendirinya sesuai dengan point kedua. Ide yang tadinya hanya kita pendam, akan berkembang setelah kita membaginya dengan orang lain.

Kemudian, setelah memaparkan ide tersebut dapat berubah menjadi sebuah kreatifitas dan inovasi yang tanpa kita sadari merupakan sebuah awal yang besar dan dapat mendatangkan perubahan yang besar pula.

Kita tidak akan berhenti sampai disana saja. Setelah memiliki ide, maka kita harus bergerak dan berusaha merealisasikan ide tersebut. Berhasil atau tidaknya ide tersebut bukan merupakan sebuah masalh. Yang terpenting adalah berusaha dan mencobanya terlebih dahulu. Sebuah gagasan akan menjadi jawaban jika kita berhasil mencobanya. Namun sebuah gagasan akan tetap menjadi gagasan bila kita tidak berani bergerak untuk merealisasikannya.

Memiliki ide yang bagus itu briliant. Tetapi ide tersebut tidak cukup hanya memenuhi fungsinya. Kita dapat menambahkan point – point di beberapa sisi dari gagasan kita tersebut untuk mempercantiknya, sehingga dapat menjadi sebuah gagasan yang menarik dan disukai oleh semua orang 🙂

Namun tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan apa yang kita miliki. Itulah yang disebut dengan perbedaan. Perbedaan diciptakan bukan tanpa solusi. Solusi dari perbedaan tersebut adalah toleransi. Dengan adanya toleransi maka kita dapat memahami dan memaklumi pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita. Kita tidak harus memahami semua ide, toleransi adalah sebuah ruang dimana kita dapat menerima apa yang orang lain pikiran tanpa harus setuju dengan pendapat mereka. Dari situ, rasa saling menghormati dapat muncul.

Selanjutnya adalah keinginan untuk menjadikan ide kita menjadi yang nomor satu. Sangat wajar jika kita selalu ingin menjadi yang terbaik. Oleh sebab itu, perasaan inilah yang terus mendorong diri kita untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Namun kita perlu ingat bahwa semua ide kreatifitas dan inovasi yang ingin kita berikan berlandaskan oleh keinginan kita untuk berkontribusi secara maksimal untuk alam semesta.

Jika kita telah dapat membuktikan kualitas diri yang kita miliki, maka dengan sendirinya lingkungan kita akan mengandalkan kita dan kepercayaan akan kita dapatkan. Sehingga akhirnya apa yang kita lakukan dapat memicu kretifitas dan ide – ide positif bagi orang – orang di sekitar kita. Alangkah mulianya jika kita dapat memberikan pengaruh baik bagi orang lain.

Pada akhirnya, kreativitas dan inovasi yang telah dilahirkan harus dapat dipertanggunjawabkan secara keilmuan. Oleh sebab itu, kita harus bertanggung jawab akan semua yang telah kita lakukan sehingga kita tidak bisa berlaku sembarangan.  Ide yang bagus adalah ide yang dapat dipertanggung jawabkan, dan itulah apa yang dibutuhkan oleh dunia ini 😀

Oleh sebab itu saya setuju engan Pak ApiQ, bahwa kreatifitas itu muncul dari dalam diri kita. Secara alami yang menghasilkan Spiritual Creativity.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: